Nyongkolan pemersatu budaya Sasak



(PEMBAHASAN TENTANG NYONGKOLAN DI SUKU SASAK)
Dalam kebudayaan di suku Sasak, terdapat banyak tradisi atau adat istiadat yang ada di suku Sasak seperti, peresean, ada tradisi jika orang yang sudah meninggal di adakan acara roah atau begawe seperti, Nelung (artinya tiga hari setelah meninggalnya seseorang ), Mituq (artinya tujuh hari setelah meninggalnya seseorang), dan Nyiwaq (artinya sembilan hari setelah meninggalnya seseorang), dan saat ini tradisi yang ada di suku Sasak yang masih berkembang dan masih di laksanakan yaitu tradisi Nyongkolan. Tradisi Nyongkolan ini akan saya bahas dengan mengutip dua narasumber yang telah saya wawancarai. Sebelum saya membahas lebih lanjut lagi, saya akan memberikan definisi dari Nyongkolan menurut saya sendiri. Nyongkolan merupakan suatu tradisi adat Sasak yang masih berlaku sampai saat ini dan merupakan suatu ciri khas suku Sasak untuk merayakan pesta pernikahan dengan menggunakan baju adat Sasak dan musik Gendang Beleq sebagai pengganti dari acara resepsi pernikahan.
Dalam tradisi Nyongkolan, pihak laki-laki pada malam harinya melakukan begawe untuk mempersiapkan acara Nyongkolan pada esok harinya. Nyongkolan biasanya di lakukan pada hari Minggu karena, pada hari Minggu itu hari dimana orang-orang libur bekerja dan ber sekolah oleh karena itu, agar mereka bisa mengikuti acara Nyongkolan tersebut. Nyongkolan itu menggunakan baju adat Sasak yang biasanya disewakan oleh pihak pengantin untuk di gunakan oleh para pengiring nantinya. Dua narasumber yang saya wawancarai berpendapat bahwa Nyongkolan itu mengakibatkan kemacetan, membuat onar, adanya perkelahian biasanya dari pengiring pihak laki-laki dan pihak perempuan, mabuk-mabukan, dan lain-lain itu merupakan hal yang biasa terjadi dalam Nyongkolan saat ini, beda dengan Nyongkolan zaman dahulu tidak ada kemacetan, mabuk-mabukan, perkelahian dan seterusnya karena pada zaman dahulu masih kental dengan adat istiadat dan mengerti arti dari Nyongkolan tersebut. Saya menceritakan apa bedanya Nyongkolan dengan adanya ogoh-ogoh yang dilakukan oleh agama Hindu itu sama-sama membuat kemacetan. Mereka pun menjawab kalau Nyongkolan itu sering terjadi dan sering di laksanakan ketika ada orang yang menikah sedangkan, acara ogoh-ogoh itu Cuma sekali setahun di adakan sesuai dengan acara keagamaan mereka. Pada zaman dahulu juga musik yang digunakan dalam Nyongkolan itu musik-musik yang bercirikan khas suku Sasak seperti Gendang Beleq, dan musik-musik ciri khas suku Sasak lainnya. Orang-orang dulu juga tidak menggunakan salon yang besar sebagai pengeras suara melainkan menggunakan speaker yang kecil dengan pegangan yang terbuat dari bambu yang dipegang oleh ketua dari pemusik tersebut dengan menggunakan baju adat Sasak dengan “Sapuq” yang terikat di kepala. Pada zaman dahulu, barisan orang-orang yang menjadi pengiring pengantin itu pertama, para suku adat tertua, pengiring pengantin perempuan, pengantin perempuan, pengiring pengantin laki-laki, pengantin laki-laki, dan baru pemusik. Beda dengan sekarang, pengiring pertama itu anak-anak kecil yang berasal dari pihak pengantin laki-laki dan pengantin perempuan, pengiring pengantin perempuan, pengantin perempuan, pengiring pengantin laki-laki, pengantin laki-laki, dan kemudian para pemusik. Itulah sekilas pembahasan tentang Nyongkolan yang ada di suku Sasak.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERESEAN

PIAGAM GUMI SASAK